Menghargai Seorang Sahabat

Assalamualaikum w.b.t.

Salam dan selamat sejahtera kepada semua manusia yang masih wujud di alam raya ini. Semoga kalian sihat-sihat belaka dan ceria mengharungi kehidupan dunia!

Hari pagi masih cerah. Menandakan keEsaan Allah yang menyatakan matahari untuk teus bersinar, atau awan yang melindunginya, atau hujan yang turun membasahi bumi selayaknya.

Betapa besarnya kuasa tuhan yang Maha Menciptakan. Dia menciptakan segala kemudahan, siang dan malam, lanit dan bumi, hujan dan panas, darat dan air, semuanya untuk kemudahan dan keperluan manusia untuk digunakan seharian.

Bersyukur kepada Allah s.w.t yang memberikan segala-galanya. Bayangkanlah, sekiranya hanya hujan tiada di muka bumi ini, manusia semuanya akan menderita. Ketika itu, komputer tidak lagi berguna, makan tidak lagi sedap, tidur tidak lagi lena, dan semuanya serba kekurangan. Manusia semua akan menderita. Bagaimana lagi kemampuan terkologi untuk menurunkan hujan dari langit yang biru? Bagaimana teknologi ingin hasilkan air untuk manusia dan hidupan lain dapat minum?

Belum lagi cerita tiada air di lautan, tiada tanah dan daratan, matahari 1 bulan tak bersinar, dan bulan tidak kunjung-kunjung tiba di waktu malam.

Semuanya berlaku dan bergerak dengan kehendak dan keizinan Allah s.w.t.

Kerana itu, kalimah syukur sentiasa perlu menitir di bibir dan bersujud kepada Ilahi. Sujud syukur sentiasa perlu dilakukan kerana menandakan terima kasih kita kepada Ilahi. Pujian-pujian perlu sentiasa diingati dan dilafazkan setiap hari.

“Ya Allah, aku bersyukur akan nikmat yang Engkau kurniakan kepadaku. Betapa besar dan agung-Nya kurniaan-Mu, tetapi betapa kerdil-Nya diriku. Tidak pernah hati benar-benar taat,  takut dan harap kepada-Mu. Ampunkanlah kelemahanku. Dengan keizinan-Mu, aku akan sentiasa memperbaiki diri. Amin.”

Menghargai. Perkataan pendek dan ringkas, tetapi besar maknanya. Malah, bukan semua orang mampu menghargai orang lain. Tidak semua mempunyai sifat dan tingkah laku yang sama. Setiap orang ada cara dan tindakannya.

Daku sendiri pun tidak pandai sangat sebenarnya untuk menghargai akan orang lain. Teringat lagi, apabila ketika usia mudaku, daku tidak beberapa pandai untuk menghargai apa-apa sahaja atau mengenangkan apa-apa peristiwa mengenai diri dan orang lain. Namun, setelah terus usia berlalu, dan makin menginjak ke dewasa, menghargai orang lain semakin menjadi perhatianku.

Daku cuba menghargai mereka dengan berterima kasih, berbuat baik, bertanya khabar dan sebagainya. Kerana dengan cara bertanya khabar, mengambil berat akannya, berterima kasih dan tidak terputus hubungan walaupun di mana sahaja akan terasa penghargaan tindakan dan kehadirannya.

Bukan itu sahaja, doa yang paling penting sebenarnya. Kerana, setiap pertemuan dan perpisahan semuanya adalah dalam ketentuan Allah. Dia yang menghidupkan, jadi Dia juga yang akan mematikan. Semuanya dalam takdir Allah. Tiada satu pun terlepas dari pengetahuan dan ilmu-Nya. Jadi, Allah yang menemukan antara sesama manusia. Dengan doa, maka kita juga telah menjalinkan hubungan dengan Allah dengan mendoakan kepada manusia.

Menghargai juga ada banyak kategori. Sudut dan kaedah setiap kategori juga berbeza. Untuk kali ini,daku ingin berkongsi erti menghargai antara sahabat. Besar nilainya dan kesannya dalam kehidupan. Tetapi siapakah sebenarnya manusia kini yang boleh diistilahkan sebagai sahabat? Kenapa begitu tinggi penghargaan kepada seorang sahabat?

Suatu kisah. Di tanah Kurdistan, ada seorang raja yang adil dan shalih. Dia memiliki putra; seorang anak lelaki yang rupawan, pemberani, cerdas dan patuh. Detik-detik yang paling membahagiakan raja adalah, ketika dia mengajari anaknya itu membaca kalam ilahi Al-Qur’an Al-Karim. Sang raja juga menceritakan kepadanya kisah-kisah kepahlawanan para panglima dan tentaranya di medan pertempuran. Anak raja yang bernama Said itu, sangat gembira mendengar penuturan kisah ayahnya. Said merasa sangat jengkel jika di tengah- tengah ayahnya bercerita, tiba-tiba ada saja yang mengganggunya atau memutuskannya.

Tidak jarang, ketika sedang asyik menghayati cerita ayahnya, dengan tiba-tiba pengawal memberitahukan bahwa ada tamu penting yang harus ditemui oleh raja. Sang raja paham apa yang dirasakan anaknya.

Dengan bijak, ayahnya memberi nasihat kepada putranya, “Anakku Said, sudah waktunya kau mencari sahabat sejati yang setia dalam suka dan duka serta menjadi ubat bagimu. Seorang sahabat yang baik, yang akan rela membantumu untuk menjadi  orang baik dan berguna. Sahabat sejati yang kau ajak saling mencintai untuk surga.”

Said terkejut dan penuh tanya mendengar perkataan ayahnya yang bijak itu.

“Apa maksud Ayahanda dengan sahabat yang boleh diajak saling mencintai untuk surga?” tanya Said penuh penasaran.

“Dia adalah sahabat sejati yang benar-benar mahu bersahabat dengan dirimu, bukan karena derajatmu, akan tetapi karena kemurnian cinta itu sendiri, yang terbentuk dari keikhlasan hati. Dia mencintaimu kerana Allah. Dengan dasar itu, kau pun mencintainya dengan penuh keikhlasan; kerana Allah. Kekuatan cinta kalian akan melahirkan kekuatan yang luar biasa yang membawa manfaat dan kebaikan. Kekuatan cinta itu pula akan bersinar dan membawa kalian masuk ke dalam jannah atau surga.”

“Bagaimana cara mencari sahabat sejati itu, wahai Ayahanda?” tanya Said.

Sang raja menjawab, “Kamu harus menguji orang yang hendak kau jadikan sahabat sejati. Ada sebuah cara menarik untuk menguji mereka. Undanglah sesiapa pun yang kau anggap sesuai, untuk menjadi sahabatmu saat makan pagi di sini, di istana. Jika sudah sampai di sini, hulurkanlah dan pelawalah dia ketika di waktu penyajian makanan.  Biarlah mereka semakin lapar. Lihatlah apa-apa yang kemudian mereka perbuat. Saat itu, rebuslah tiga butir telur. Jika ia tetap bersabar, hidangkanlah tiga telur itu kepadanya. Lihatlah, apa yang kemudian yang mereka perbuat! Itulah cara yang paling sederhana bagimu. Syukur, jika kau boleh mengetahui perilakunya lebih dari itu.”

Said sangat gembira mendengar nasihat dari ayahandanya seorang raja yang shalih. Dia pun mulai melakukan apa yang dikatakan ayahandanya,d ia mempraktikkan cara mencari sabahat sejati yang cukup langka itu. Mula-mula, ia mengundang anak-anak para pembesar kerajaan satu persatu. Sebahagian besar dari mereka marah-marah karena hidangan tidak keluar-keluar. Bahkan, ada yang pulang tanpa izin dengan hati kesal, ada yang memukul meja, ada yang melontarkan kata-kata kesat dan mencaci maki karena terpaksa terlalu lama menunggu hidangan.

Di antara teman anak raja itu, ada seorang yang bernama Adil. Dia anak seorang menteri. Said melihat, sepertinya Adil anak yang baik hati dan setia. Maka, dia ingin mengujinya. Diundanglah Adil untuk sarapan pagi. Adil memang lebih sabar dibandingkan anak-anak pembesar sebelumnya. Dia menunggu keluarnya hidangan dengan setia. Setelah dirasakan cukup, said mengeluarkan sebuah piring berisi tiga telur rebus.

Melihat itu, Adil berkata keras, “Hanya ini sarapan kita? Itu tidak cukup mengisi perutku.”

Adil tidak mau menyentuh telur itu. Dia pergi begitu saja meninggalkan Said sendirian. Said terdiam. Tidak perlu meminta maaf pada Adil karena telah meremehkan hidangan itu yang telah direbus oleh Said. Dia mengerti Adil tidak lapang dada dan tidak cocok menjadi sahabat sejatinya.

Hari berikutnya, dia mengundang anak seorang saudagar terkaya. Tentu saja, anak saudagar itu sangat senang mendapat undangan makan pagi dari seorang pangeran. Pada malam harinya, sengaja dia tidak makan agar paginya bisa makan sebanyak mungkin. Dia membayangkan, makanan anak raja pasti enak dan lezat.

Pagi-pagi hari, anak saudagar kaya itu telah datang menemui said. Seperti anak-anak sebelumnya, dia harus menunggu waktu yang lama sampai makanan dihidangkan. Akhirnya Said membawa piring dengan tiga piring berisis tiga butir telur.

“Ini makanannya, saya ke dapur dulu mengambil air minum,” kata Said seraya meletakkan piring itu di atas meja.

Lalau, Said masuk ke dalam. Tanpa menunggu lagi, anak saudagar itu langsung melahap satu persatu telur itu. Tidak lama kemudian, Said keluar membawa dua gelas air putih. Dia melihat ternayata tiga telur itu telah lenyap.

“Mana telurnya?” tanya Said pada anak saudagar.

“Telah aku makan.”

“Semua?”

“Ya, habis aku lapar sekali.”

Melihat itu Said langsung tahu bahwa anak saudagar itu juga tidak bisa dijadikan sahabat setia. Dia tidak setia. Tidak bisa merasakan suka duka bersama. Sesungguhnya, Said belum makan apa-apa.

Said merasa jengkel kepada anak-anak di sekitar istana. Mereka semua mementingkan diri sendiri. Tidak setia kawan. Mereka tidak pantas menjadi sahabat sejatinya. Akhirnya ia meminta izin kepada ayahnya untuk pergi mencari sahabat sejati.

***

Akhirnya, Said berpikir mencari sahabat di luar istana. Kemudian, mulailah Said mengembara melewati hutan ladang, sawah, dan kampung-kampung untuk mencari seorang sahabat yang baik.

Sampai akhirnya, pada suatu hari yang cerah, dia bertemu dengan anak seorang pencari kayu yang berpakaian sederhana. Anak itu sedang memanggul kayu bakar. Said mengikutinya diam-diam sampai anak itu tiba di pondoknya. Rumah dan pondok anak itu menunjukkan bahwa ia sangat miskin. Namun, wajah dan sinar matanya memancarkan tanda kecerdasan dan kebaikan hati. Anak itu mengambil air wudhu’, lalu shalat dua raka’at. Said memerhatikannya dari balik pohon.

Selesai shalat, Said datang dan menyapa, ”Kawan, kenalkan aku Said. Kalau boleh tahu, namamu siapa? Kau tadi shalat apa?”

“Namaku Abdullah. Tadi itu shalat dhuha.”

Lalu, Said meminta anak itu agar bersedia bermain dengannya, dan menjadi temannya.

Namun, Abdullah menjawab, “Kukira kita tidak cocok menjadi sahabat. Kau anak seorang kaya, malah mungkin anak bangsawan. Sedang aku, anak miskin. Anak seorang pencari kayu bakar.”

Said menyahut, “Tidak baik kau mengatakan begitu. Mengapa kau membeza-bezakan orang? Kita semua adalah hamba Allah. Semuanya sama, hanya takwa yang membuat orang mulia di sisi Allah. Apakah aku kelihatan seperti anak yang jahat sehingga kau tidak mahu berkawan denganku? Mengapa tidak kita cuba untuk beberapa waktu dulu? Kemudian, kau boleh menilai, apakah aku sesuai atau tidak menjadi sahabatmu.”

“Baiklah kalau begitu, kita bersahabat. Akan tetapi, dengan syarat, hak dan kewajiban kita sama, sebagai sahabat seia dan sekata.”

Said menyertai syarat yang diajukan oleh anak pencari kayu itu. Sejak hari itu, mereka bermain bersama ; pergi ke hutan bersama, memancing bersama, dan berburu binatang bersama.  Anak tukang kayu itu mengajarkannya berenang di sungai, menggunakan panah, dan memanjat pokok di hutan. Said sangat gembira sekali berteman dengan anak yang cerdas, rendah hati, dan setia. Akhirnya, dia kembali ke istana dengan hati gembira.

Hari berikutnya, anak raja itu berjumpa lagi dengan teman barunya. Anak pencari kayu itu langsung mengajaknya makan di pondoknya. Dalam hati, Said merasa kalah, sebab sebelum dia mengundang makan, dia telah diundang makan.

Di pondok itu, mereka makan seadanya. Sepotong roti, garam, dan air putih. Namun, Said makan dengan sangat lahap. Ingin sekali rasanya dia minta tambah kalau tidak mengingat, siapa tahu anak pencari kayu ini sedang mengujinya. Oleh karena itu, Said merasa cukup dengan yang diberikan kepadanya.

Selesai makan, Said mengucapkan hamdallah dan tersenyum. Setelah itu, mereka kembali bermain. Said banyak menemukan hal-hal baru di hutan, yang tidak ia dapatkan di istana. Oleh sahabatnya itu, dia diajarkan untuk mengenali dan membezakan jenis daun dan buah-buahan di hutan; antara daun dan buah yang boleh dimakan, yang boleh dijadikan obat.

“Dengan mengenal jenis buah dan daun di hutan secara baik, kita tidak risau jika suatu ketika tersesat. Persediaan makanan ada di sekitar kita. Inilah keagungan Allah!” kata anak pencari kayu.

Seketika itu, Said bahwa ilmu tidak hanya boleh didapat di madrasah seperti di ibu kota kerajaan. Ilmu ada di mana-mana. Bahkan di hutan sekalipun. Hari itu Said banyak mendapatkan pengalaman berharga.

Ketika matahari sudah condong ke Barat, Said meminta izin kepada sahabatnya itu untuk pulang. Tidak lupa, Said mengundangnya makan di rumahnya pagi esok. Lalu, dia memberikan secarik kertas pada temannya.

“Pergilah ke ibu kota, berikan kertas ini kepada tentera yang kau temui di sana. Dia akan menghantarkanmu ke rumahku, “ kata Said sambil tersenyum.

Insya Allah aku akan datang,” jawab anak pencari kayu itu.

Pagi harinya, anak pencari kayu itu sampai juga ke istana. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Said adalah anak raja. Mulanya dia ragu untuk masuk ke istana. Akan tetapi, apabila mengingatkan kebaikan dan kerendahan hati Said selama ini, dia berani masuk juga.

***

Said menyambutnya dengan dengan hangat, penuh rasa persahabatan dan senyum gembira. Seperti anak-anak sebelumnya yang telah diundang makan di ruang makan itu, Said pun menguji temannya ini. Dia membiarkannya menunggu lama sekali. Namun, anak pencari kayu itu sudah biasa lapar. Bahkan, dia pernah tidak makan selama beberapa hari. Atau, terkadang makan daun-daun mentah saja. Dia hanya berpikir, seandainya semua anak bangsawan boleh sebaik anak raja ini, tentu dunia akan tenteram.

Selama ini, dia mendengar bahwa anak-anak pembesar kerajaan, senang berfoya-foya. Namun, dia menemukan seorang anak raja yang santun dan shalih.

Akhirnya, tiga butir telur telah dimasak pun dihidangkan. Said mempersilakan sahabatnya untuk  makan. Anak pencari kayu itu mengambil satu. Lalu, dia mengupas kulitnya perlahan-lahan. Sementara Said mengupas dengan cepat dan menyantapnya. Kemudian, dengan senagaja Said mengambil telur yang ketiga. Dia mengupasnya dengan cepat, dan melahapnya. Sahabatnya selesai mengupas telur. Said ingin melihat apa yang akan dilakukan sahabatnya dengan sebutir telur itu, apakah ia akan memakannya sendiri atau…?

Anak pencari kayu itu mengambil pisau yang ada di dekatnya. Lalu, dia membelah telur itu menjadi dua; yang satu ditangannya, dan yang satunya lagi, dia berikan kepada Said. Tidak syak lagi, Said pun menangis dengan terharu.

Lalu Said pun memeluk anak pencari kayu bakar itu erat-erat seraya berkata, “Engkau sahabat sejatiku! Engkau sahabat sejatiku! Engkau sahabatku masuk surga.”

Sejak saat itu, keduanya bersahabat dengan sangat akrab. Persahabatan mereka melebihi saudara kandung. Mereka saling mencintai dan saling menghormati karena Allah Swt.

Karena kekuatan cinta itu, mereka bahkan sempat bertahun-tahun mengembara bersama untuk belajar dan berguru kepada ulama yang tersebar di Turki, Syiria, Irak, Mesir dan Yaman.

Bulan berganti bulan dan tahun, akhirnya keduanya menjadi dewasa. Raja yang adil; ayahanda Said, meninggal dunia. Akhirnya Said diangkat menjadi raja untuk menggantikan ayahandanya. Menteri yang pertama kali dia pilih ialah Abdullah, anak pencari kayu itu. Abdullah pun benar-benar menjadi sahabat seperjuangan dan penasihat raja.

Meskipun telah menjadi raja dan menteri, keduanya masih sering melakukan shalat tahajjud dan membaca Al-Qur’an bersama. Kecerdasan dan kematangan jiwa keduanya mampu membawa kerajaan itu menjadi maju, makmur, dan jaya; baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur (Dipetik dari cerita sahabat syuga.)

 

– semoga sentiasa gembira dan sihat sejahtera. Sekiranya kekurangan atau rasa lemah, jangan bimbang lagi. Ada orang yang memerhati dan mengharapkan sentiasa ada kekuatan diri mengharungi .

–  bagus ya video itu. Macam-macam gaya si kecil buat. Pandai betul bagi ceramah tentang Allah dan ad-din. Jegil sana- jegil sini, walaupun ada beberapa perkataan tak jelas, lihat semua teletah pun rasa dah tahu. Lucu gayanya. Berpusing-pusing cakap . Sempatpulak nak iklankan islamy 🙂 (yang lain-lain bila nak buat video pula? Bleh jadi saingan dengan video ini.)

-teruskan usaha apa-apa yang sedang dilakukan. Menyelidik ke, jurnal ke, tesis ke, buat kek ke, apa-apa sahaja. Bersemangat dan jangan cepat putus asa!

-“Ya Allah, kurniakanlah kekuatan dan semangat buat hamba-Mu di sana. Jika dia serba kekurangan, bantu dan lindungilah dia . Amin.”

 

Tinggalkan Jawapan

Masukkan butiran anda dibawah atau klik ikon untuk log masuk akaun:

WordPress.com Logo

Anda sedang menulis komen melalui akaun WordPress.com anda. Log Out / Tukar )

Twitter picture

Anda sedang menulis komen melalui akaun Twitter anda. Log Out / Tukar )

Facebook photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Facebook anda. Log Out / Tukar )

Google+ photo

Anda sedang menulis komen melalui akaun Google+ anda. Log Out / Tukar )

Connecting to %s

%d bloggers like this: